Komunikasi Keluarga – model Virginia Satir

Bismillahirrohmanirrahiim

Saya mengenal pemikiran dan kiprah Virginia Satir dalam dunia psikologi, komunikasi, NLP & psikoterapi sebenarnya lewat workshop Innerchild Healing Within pada bulan november 2018, yang diselenggarakan oleh Paradigma Consulting, dengan mendatangkan narasumber tunggal pak Asep Haerul Gani, seorang psikolog yang berpengalaman kurang lebih 26 tahun di dunia psikologi, psikoterapi, hypnoterapi, NLP & coaching.

Di salah satu sesi workshop innerchild healing within tersebut, pak Asep membahas teori Family Therapy dari Virginia Satir. Sejak saat itu saya tertarik untuk mencari tahu lebih dalam pemikiran Virginia Satir terkait komunikasi, psikologi dan psikoterapi terutama konteksnya untuk keluarga.

Tulisan mengenai Komunikasi Keluarga model Virginia Satir ini saya sarikan dari bahasan family therapy saat workshop innerchild healing within bersama pak Asep Haerul Gani dan juga dari literatur yang membahas komunikasi setara model Virginia Satir.

Dalam pandangan Virginia Satir, Komunikasi merupakan hal yang penting untuk menjaga keharmonisan seluruh keluarga. Kemampuan manusia untuk survive tergantung pada kemampuannya untuk berkomunikasi. Virginia Satir menggambarkan proses komunikasi sebagai “A huge umbrella that covers and effect all that goes on between human beings”. Sebuah payung raksasa yang memayungi dan mempengaruhi semua yang terjadi antar manusia. Semua orang terlibat komunikasi secara verbal maupun non verbal di seluruh aspek hidupnya.

Komunikasi yang baik bukan sekedar pertukaran kata-kata antar perorangan. Komunikasi yang baik adalah tentang apa yang kita katakan, bagaimana kita mengatakannya, serta kapan, dan dalam konteks apa kita mengatakannya. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang disampaikan dengan terbuka, jelas dan jujur. Komunikasi yang demikian, disebut komunikasi yang Congruent (nyambung).

Komunikasi yang congruent memiliki empat elemen, yaitu: diri sendiri (komunikator), orang lain (komunikan), konteks dan topik. Pengabaian terhadap salah satu elemen, mengakibatkan komunikasi menjadi incongruent (tidak nyambung, tidak sejalan).

Terkait dengan empat elemen tersebut, Virginia Satir mengelompokkan komunikator ke dalam lima kategori, yaitu:

  • Placating Communicator atau Placater, Komunikator jenis ini adalah komunikator yang tidak mau mengecewakan, tidak mau berdebat, dan tidak ining berkonflik dengan lawan bicara/komunikan. Dia selalu ingin menyenangkan lawan bicaranya saat berkomunikasi, dengan cara menyetujui apapun yang diinginkan oleh lawan bicaranya, meskipun itu jadi mengabaikan keinginannya sendiri. Salah satu sebab utama seseorang menjadi Placater adalah rasa inferioritas.
  • Blaming Communicator atau Blamer, Komunikator jenis ini senang mengabaikan orang lain saat berkomunikasi karena selalu merasa benar. Masalah di dalam keluarga merupakan kesalahan anggota keluarga yang lain, bukan dirinya, meskipun dirinya memberikan andil besar dalam permasalahan di keluarga. Komunikator jenis ini akan selalu berbicara dengan memerintah dan menyalahkan. Semua yang terjadi didsalam rumah harus sesuai dengan perintah dan aturannya. Perasaan ini dibentuk dari rasa superioritas sang komunikator kepada lawan bicaranya.
  • Computing Communicator atau Computer. Jenis ini disebut super rational communicator atau super reasonable. Komunikator jenis ini sering mengabaikan elemen dirinya sendiri, orang lain atau komunikan dan konteks. Mereka beranggapan semua hal harus sesuai “teori pakem” dan tidak boleh menyimpang sama sekali.
  • Distracting Communicator atau Distractor. Komunikator jenis ini mengabaikan keempat elemen komunikasi yang congruent, yaitu diri sendiri, orang lain, konteks dan topik. Komunikator jenis ini biasanya sering tidak fokus pada topik yang sedang dibicarakan saat berada pada posisi panik, tertekan atau merasa bersalah. Mereka suka mengganti topik pembicaraan untuk menghindar dari masalah yang sedang dibicarakan. Dengan maksud agar topik pembicaraan segera berganti dan masalah yang ada terlupakan.

Keempat jenis komunikator diatas, merupakan sumber masalah didalam keluarga. Placater meskipun mampu menghindarkan konflik dalam keluarga, namun menyimpan potensi yang berbahaya. Orang dengan tipe placater biasanya sulit mencapai keputusan dengan cepat karena menunggu keputusan orang lain. Tipe Blamer selalu ingin merasa menang dan dipenuhi keinginannya, serta melimpahkan semua kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain. Sangat sulit membuat keputusan yang menyenangkan semua pihak, jika ada tipe blamer di suatu kelompok atau keluarga. Bila seorang blamer berhadapan dengan seorang placater, kecenderungan untuk berkuasa dan dipenuhi keinginannya pada sang blamer akan terus meningkat. Sebaliknya dibutuhkan kesabaran lebih tinggi bagi seorang placater untuk menghadapi keinginan sang blamer yang semakin meningkat. Pola semacam ini akan berujung konflik yang sangat besar dan meledak saat batas kesabaran sang placater sudah melampaui ambang batasnya.

Melihat potensi konflik tersebut, maka dibutuhkan pola komunikasi yang moderat. Sebuah pola komunikasi dimana komunikator dan komunikan mampu mengungkapkan keinginan dan harapannya, serta mampu saling mendengar dan memahami sehingga ditemukan titik temu. Yang dibutuhkan adalah win-win communication.

  • Pola win-win communication ini bisa dilakukan oleh tipe komunikator yang kelima dalam kategorisasi Virginia Satir, yaitu Interpersonal Communicator atau bisa disebut juga Leveler. Kommunikator jenis ini memperhatikan keempat elemen komunikasi yaitu diri sendiri, orang lain, konteks dan topik. Leveler bisa menempatkan dirinya dan lawan bicaranya dalam posisi setara atau selevel, tidak merasa superior ataupun inferior terhadap lawan bicara. Seorang leveler juga selalu memperhatikan konteks komunikasi dilakukan dengan memilih waktu dan tempat yang tepat, serta fokus pada topik komunikasi. Dengan demikian, kesepakatan dan keputusan akan mudah dicapai.

Agar mudah menjadi leveler, Virginia Satir merekomendasikan setiap anggota keluarga agar menggunakan pola komunikasi “I-Message”. Pola komunikasi I-Message diyakini akan mampu membangun komunikasi antar pribadi yang congruent. I-Message adalah lawan dari You-Message. You-Message adalah pola komunikasi yang menekankan komunikan sebagai pelaku dari perbuatan yang sedang dibicarakan atau dipersoalkan. Biasanya, You-Message diawali dengan kata “Kamu” yang cenderung menyalahkan, menghakimi, bahkan menilai orang secara vulgar.

Contoh kasus pola You-Message: seorang suami pulang terlambat dari kantor. Sang isteri mengatakan pada suaminya, “Kamu kemana saja? Pulang malem banget begini” (menyalahkan) “Siapa perempuan lain yang membuat kamu pulang telat begini?” (menghakimi), atau “Kamu pasti sudah bosan pulang ke rumah ketemu aku” (menilai). Pola komunikasi You-Message membuat komunikan bereaksi negatif dan resisten terhadap pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator. Saat seseorang disalahkan, dihakimi dan dinilai negatif, maka orang tersebut pasti akan menentangnya karena dorongan harga diri yang dilecehkan.

Namun, You-Message Tidak Selalu berdampak negatif. Ada saat-saat tertentu saat You-Message digunakan, justru menimbulkan dampak positif pada komunikan. Contoh: seorang ibu yang mengatakan “Kamu Hebat” kepada anaknya yang mendapatkan nilai bagus hasil ujian matematikanya. You-Message semacam itu akan semakin membuat anak terpacu untuk belajar. Dampak positif tersebut akan didapat jika pola komunikasi You-Message yang digunakan adalah tulus dan jujur, sesuai dengan apa yang dirasakan oleh sang ibu terhadap anaknya.

I-Message adalah pola komunikasi antar pribadi yang lebih menekankan pada apa yang dirasakan oleh komunikator sebagai akibat dari apa yang dilakukan oleh komunikan. Sehingga dengan demikian, komunikan tidak merasa disalahkan atau dihakimi, dan pada gilirannya, mau mendengarkan dan memahami pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator

Formula I-Message sederhana memiliki tiga elemen dasar, yaitu:

  1. Saya Merasa ….. Bagian ini mengungkapkan apa yang dirasakan komunikator
  2. Bila Kamu ….. Bagian ini menyatakan perbuatan komunikan yang menjadi penyebab apa yang dirasakan oleh komunikator
  3. Saya Ingin ….. Bagian ini menyatakan usulan, harapan atau keinginan komunikator mengenai perubahan perilaku komunikan

Dengan pola I-Message, dari contoh kasus diatas, sang istri akan mengatakan ““Aku selalu merasa khawatir, jika kamu pulang telat. Besok lagi kalau pulang telat, tolong beri kabar melalui WA atau telepon”.

Dalam formula lengkapnya, I-Message memiliki lima elemen, yaitu Sensing (Merasa secara inderawi), Emotion (Merasa secara psikologis), Want (Menginginkan), Behavior (Perilaku) dan Effect (Dampak), yang sering disingkat sebagai SEWBE. Kelima elemen tersebut digambarkan dalam tabel berikut:

ElemenDeskripsiContoh
Sensingapa yang Anda lihat, dengar atau rasakan secara inderawi ?Menurut saya ruangan ini terlalu berisik ….
Emotionperasaan seperti apa yang Anda rasakan secara psikologis ?… saya merasa terganggu…
Wantapa     yang     Anda               inginkan            untuk mendukung   atau  mengatasi          perasaan tersebut ?… saya ingin suasana yang sedikit lebih tenang untuk berkonsentrasi…
Behaviorapa tindakan, tingkah laku atau bantuan yang ingin Anda minta ?… bolehkah saya minta tolong pada Anda untuk mengecilkan sedikit volume suara CD player Anda….
Effectapa akibat positif yang akan ditimbulkan dengan tingkah laku atau tindakan tersebut nantinya ?… supaya saya bisa berkonsentrasi dan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat, jadi Anda juga dapat lebih bebas mendengarkan musik setelah saya selesai.”

Pola I-Message sangat cocok digunakan bila:

  1. Tingkah laku orang yang akan kita ajak bicara sangat mengganggu
  2. Saat pemikiran untuk mengajari, menguliahi, memenangkan konflik atau menjadi orang yang paling tahu jawaban untuk orang itu muncul. Kita tidak ingin dianggap menjadi orang yang sok menggurui.
  3. Ketika orang tersebut sepertinya tidak memahami apa yang sebenarnya kita sampaikan.
  4. Ketika kita mempunyai perasaan atau pengalaman yang ingin dibagi dengan orang tersebut.

Namun begitu, I-Message bukanlah sebuah pola komunikasi tanpa resiko atau dampak negatif. Dr. Jane Bluestein, dalam artikelnya “What’s Wrong with I-Message?”, menyatakan bahwa ada beberapa resiko atau dampak negatif terkait dengan I-Message. Uraian Dr. Blustein dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Pertama, Bagi pemula atau orang yang baru belajar menggunakan pola komunikasi ini, seringkali I-Message hanyalah “ganti baju” dari You-Message. Dan sebagaimana You- Message, pola komunikasi “ganti baju” ini membawa dampak menyalahkan, menghakimi dan menilai buruk lawan bicara.
  • Kedua, Setelah menegur orang dengan menggunakan pola I-Message, kemudian orang tersebut berusaha merubah perilakunya. Namun, perubahan perilaku ini mungkin karena dia tidak mau melihat kita merasa sedih atau khawatir, bukan karena dia memang ingin berubah. Dalam hal ini, kesadaran akan kesalahan perilaku, sebagai tujuan digunakannya I- Message tidak tercapai.
  • Ketiga, pola I-Message yang fokus pada perasaan komunikator akan terdengar seperti sebuah “kendali” bagi komunikan dan sang komunikan akan menggunakannya untuk “mengendalikan” sang komunikator suatu saat nanti.

Terakhir, ada dua hal penting mengenai komunikasi keluarga model Virginia Satir ini: Pertama, yang dibutuhkan untuk membangun keharmonisan keluarga melalui komunikasi adalah sikap empati dan rasa kesetaraan yang ada pada diri masing-masing anggota keluarga. Kedua hal itu akan menjadikan seseorang menjadi leveler, yang tidak merasa superior atau inferior di hadapan orang lain. Sehingga, saat berkomunikasi, kedua pihak akan mampu secara bebas dan terbuka mengutarakan keinginan masing-masing, sekaligus siap untuk saling menurunkan tuntutan masing-masing, sehingga tercipta win-win communication yang menghantarkan kepada win-win solution atau win-win agreement. Kedua, Harus ada upaya dari masing-masing anggota keluarga untuk membiasakan dan melatih diri dengan pola I-Message dalam berkomunikasi. Ini memerlukan upaya keras karena sebagian besar orang sudah terbiasa dan merasa jauh lebih mudah dengan pola You-Message ketimbang I- Message.

Sumber Referensi:

  • Materi Workshop Innerchild Healing Within dari Drs. Asep Haerul Gani, Psikolog

Alhamdulillahirobbil’alamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s